GURU HONORER “PAHLAWAN PINGGIRAN NEGERI MENGABDI TANPA LETIH”

 

duarato.desa.id :  10 – 11-2017 : Sejenak memandang jalanan pagi di Desa, nampak sesosok wanita menenteng Tas berisi buku di bahu kirinya, bahu kanannya menggendong sang bayi yang baru berusia tiga bulan, beradu langkah dengan debu jalan menapaki setapak dalam belukar, sedikit tergesa-gesa beradu langkah dengan bocah-bocah berseeragam yang bersemangat mengayunkan langkah menuju Sekolah,  Menoleh kearah Hanphone Jadul miliknya melihat jam, berkernyit dahinya karena mungkin sudah telat. di persimpangan bertemu dengan rekannya yang juga berjalan kaki , nampak tas usang penuh tambalan di tentengnya, sambil becanda gurau mereka melaju cepat menuju Sekolah tempat mereka berbakti. Mereka  adalah Guru Sukarela Persis di Perbatasan RI – RDTL Kecamatan Lamaknen dan Lamaknen Selatan. Pemandangan yang sama juga  terlihat di Setiap sisi terdepan Negeri ini. Dalam Senyum penuh ikhlas mereka berbagi cerita bahagia, berkeluh kesah tentang duka bersama rekan-rekannya sesama Pengabdi.

Guru Honor atau Guru Komite begitu julukan mereka, mengabdi dengan upah berkisar Rp. 100.000,- bahkan tidak diupah sama sekali. Mungkin bagi orang kebanyakn beranggapan profesi mereka adalah profesi kasta paling rendah kalau dilihat dari upah yang mereka dapat, tetapi tidak bagi mereka, pengabdian dan dedikasi untuk negeri membuat mereka paling bermartabat di seantero negeri ini. Dari latar belakang pendidikan yang mereka tempuh setingkat S1 bukanlah menjadi sebuah ukuran bagi mereka untuk mematok upah, mereka rela berbakti hanya karena panggilan Nurani mereka sebagai seorang Guru, mereka Berbagi Inspirasi, menebar harapan bagi anak didiknya tanpa memikirkan nasib mereka sendiri.

Dalam sebuah perjalanan Saya bertemu dengan seorang senior saya yang juga adalah Kepala Sekolah di Salah satu SMP di Perbatasan, Cerita sama saya dengar tentang mirisnya nasib para pengabdi yang luput dari perhatian Negara ini. Guru – guru di pedalaman Timor di Perbatasan ini memang layak menyandang Predikat Pahlawan tanpa tanda Jasa, setelah Lima tahun bahkan sampai belasan Tahun mengabdi bukannya mereka yang diperhatikan bahkan pemerintah dengan Bangganya menggagas program SM3T, Guru-garis Depan, dengan leluasanya Pemerintah memberikan akses bagi para Sarjana yang baru Lulus yang berasal dari luar daerah untuk mengajar sekejap  tanpa sedikitpun memberi ruang bagi para Guru yang sudah mengabdi Bertahun-tahun. Bagi Pemerintah mungkin Program ini adalah keberhasilan tetapi Tidak bagi mereka, Semakin dipinggirkan, semakin ditinggalkan dan bahkan dibuang.

Dalam peringatan Hari pahlawan yang mengusung Tema ” Perkokoh Persatuan Untuk Membangun Negeri “, Mereka Adalah  Pahlawan yang Memberi Kontribusi Besar bagi Pembanguna Negeri ini, mereka menata Tunas bangsa, generasi muda bangsa, di Pinggiran Negeri Mereka Luput dari Perhatian induknya bagai anak yang tersesat yang tertatih melangkah untuk mendapat hangat pelukan induknya, namun Terjalnya jalan yang harus mereka lalui nampaknya terus merintangi langkah mereka. Tanpa pilihan mereka tetap bertahan dalam dinginnya keterbuangan, tanpa sedikitpun pudar cinta mereka kepada bangsa ini, mereka terus menebar Senyum pengharapan bagi Generasi bangsa di pelosok Negeri karena telah terpatri dalam Jiwa mereka Guru adalah panggilan Jiwa.

Salam Bagimu Guru-guru di Seluruh Indonesia.

Salam Bagimu sang  PAHLAWAN TANPA TANDA JASA,

Selamat Hari pahlawan.

Suri Lebo Eduardus, PRAKARSA DESA

Gambar Ilustrasi Sumber : galamedianews.com

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan