Masyarakat Adat Duarato mendapat bantuan Program Revitalisasi Desa Adat dari Ditjen Kebudayaan

Material Bangunan berupa Kayu balok di lokasi RDA

Kampung adat duarato merupakan salah satu kampung adat yang masih terjaga keasliannya hingga sekarang, sebagai simbol identitas budaya masyarakat adat duarato senantiasa menjaga dan melestarikan kebudayaannya baik itu dalam bentuk aturan-aturan dalam kehidupan warga, maupun peninggalan -peninggalan seperti rumah adat dan situs bersejarah lainnya. Dahulu sebelum terjadi kebakaran di kampung adat duarato terdapat 12 rumah adat yang terletak di kampung taebere holsa duarato. Namun  seiring waktu berjalan tersisa 3 buah rumah yang masih berdiri kokoh yakni purbelis umametan, mot ueleu, dan asutalin. untuk menjalankan ritual adat dan sebagai tempat berkumpul keluarga besar,masyarakat adat terpaksa membangun rumah moderen dan menyebar di pemukiman penduduk mengingat biaya untuk membangun rumah adat cukup besar sehingga dengan bergotong royong warga hanya mampu membangun kembali satu  rumah adat dalam rentang waktu 5-10 tahun.

Namun dalam keterbatasan itu tidak membuat warga meninggalkan tradisi budayanya. setiap tahun warga menjalankan ritual adat serta aturan-aturan adat yang mengikat warga masih setia dijalankan. Pemerintah desa terus berupaya untuk melakukan fasilitasi terhadap lemabaga adat dengan menganggarkan melalui dana desa, sehingga setiap tahun selalu dilakukan kegiatan sosialisasi aturan adat, penguatan sanggar seni, dan kelompok tenun. Tercatat di Desa duarato sudah dua  kali diselenggarakan festival budaya berskala nasional , yakni pada tahun 2017 bekerja sama dengan seniman melalui program seniman mengajar, dan pada tahun 2018 melalui platform kebudayaan Indonesiana dengan mengusung tagline Fohorai Festival, pada tahun 2016  digagas sekolah seni budaya oleh masyarakat adat yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan seni budaya lintas generasi.

Dari upaya yang dilakukan terus menerus oleh warga maka pemerintah pusat melalui Direktorat Kepercayaan dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan , Kemdikbud RI memberikan bantuan kepada masyarakat adat untuk membangun kembali 4 buah rumah adat melalui program Revitalisasi Desa Adat tahun 2018. Kegiatan yang dilakukan secara swakelola ini sepenuhnya di laksanakan oleh lembaga adat taebere.

Dalam pantauan pewarta desa rabu 25 Oktober 2018, nampak material rumah adat  berupa balok dan papan sudah disiapkan di sekitaran kampung adat. Fransiskus Loko Ketua panitia pelaksana menyampaiakn bahwa semua material kayu sudah disiapkan oleh masyarakat tinggal diangkut menuju lokasi. ” yang ada sekarang ini baru sebagian kecil, yang lain masih di hutan, secepatnya akan segera diangkut kesini ” pungkasnya. Ditanya mengenai kendala  dilapangan Frans mengemukakan bahwa kesulitan terbesar sekarang yakni rumput alang-alang untuk atap yang sekarang

Masyarakat Sedang mengerjakan Ukiran Dinding dan Pintu Rumah Adat

jumlahnya sudah sangat berkurang sehingga masyarakat harus mencari cukup jauh, namun dirinya optimis pelaksanaan kegiatan ini akan selesai sesuai batas waktu yang sudah disepakati.

Kepala Desa Duarato Gregorius Mau Bere  menyampaikan ucapan terimakasih kepada pemerintah melalui melalui Direktorat Kepercayaan dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan , Kemdikbud RI yang telah menerima proposal yang diajukan oleh lembaga adat sehingga kegiatan ini dapat terelaisasi. Dirinya juga berpesan kepada masyarakat adat agar terus bekerjasama sehingga proses pembangunan 4 buah rumah adat dapat diselesaikan tepat waktu.

foto liputan : S.L.Eduard

 

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan