Tenun Ikat Mahakarya Warisan Leluhur – Perpaduan Filosofi Kehidupan Seni dan Keterampilan

duarato 30/10/2018 : Indonesia memiliki ribuan suku dan etnis yang tersebar di seluruh wilayanya, Dari Sabang sampai Merauke terbentang ribuan kekayaan dengan beragam corak dan rupa   , dari sisi hamparan bentang alam dan isinya maupun manusia penghuni dan tradisi budayanya.

Proses pemintalan kapas menjadi benang

Salah satu kekayaan budaya itu terdapat di desa Duarato kecamatan Lamaknen kabupaten Belu NTT. Selain kampung adatnya yang masih tradisional ada juga beberapa situs budaya lainnya  masih dipertahankan sampai sekarang. Tradisi – tradisi budaya berupa gotong royong ,ritual adat dan  aturan adat masih sangat kental berlaku di dalam keseharian warganya.  Seni budaya berupa seni tutur, seni pantun, dan tarian serta kerajinan tenun dan ukiran juga masih ada di kampung ini. Dalam mempertahankan identitas serta tradisinya warga di sukung penuh oleh pemerintah desa dengan menganggarkan dalam ADD setiap tahun untuk kegiatan fasilitasi lembaga adat dan penguatan kapasitas kelompok tenun.

Kain tenun merupakan Sebuah mahakarya  warisan leluhur perpaduan antara filosofi kehidupan yang dibalut dalam sebuah karya seni,  keindahan, yang dikerjakan oleh tangan-tangan terampil para wanita yang sangat teliti dan tekun.Biasanya kain tenun dipakai saat upacara adat namun akhir-akhir ini sudah banyak berkembang trend fashion etnic yang sangat digandrungi oleh generasi milenial. Ini merupakan suatu  contoh bahwa tradisi budaya sangat dicintai dan dijaga kelestariannya oleh semua generasi Trend ini berdampak  positif bagi  para warga pengrajin tenun dalam peningkatan pendapatnnya serta terwariskannya tradisi budaya. Hali ini ditandai dengan semakin banyak warga yang menggeluti pekerjaan menenun.

Tenunan terdiri dari berbagai macam motif dan setiap motif memiliki makna tersendiri.Bahanyapun beragam ada yang dari benang toko, dan ada juga yang dari benang kapas yang dipintal secara manual. satu ciri khas tenunan dari duarato adalah parasa dan hutus morok. Bahan untuk membuatnya  dari kapas asli yang ditanam dan dipanen oleh warga, Prosesnya pun masih alami , tanpa menggunakan bahan pewarna buatan  kain ini diwarnai dengan pewarna dari tumbuhan..

Kain Tenun biasanya dipakai pada saat ritual adat

Benangnya dirajut perlahan dengan cara menggulung kapas dengan alat penggulung yang kemudian menjadi benang, Meter demi meter benang terbentuk, sampai kira-kira benang cukup untuk membuat sebuah kain masih belum juga berakhir perjuangan membuat benang tersebut layak di pakai, Tangan halus para Perempuan desa masih harus menghaluskan lagi benang tersebut meter-demi meter, cukup sulit  memang, Banyak tenaga yang terkuras, banyak waktu yang terbuang.

Sampai saat benang tersebut benar-benar siap tahapan selanjutnya adalah memberi motif pada benang tersebut sebelum di tenun,  caranya  adalah dengan teknik mengikat benang tersebut sesuai motif yang diinginkan kemudian ikatan benang itu dimasak dengan pewarna dari tumbuhan, Setelah di masak motif awal tersebut dikeringkan.

Selanjutnya proses membentuk tenunan dengan menggulung pada alat tenun, hentakan demi hentakan alat tenun akan membentuk kain sedikit demi sedikit. sampai benar -benar sehelai kain   prosesnya memakan waktu 7 bulan sampai 1 tahun lamanya.

Kain Tenun Asli

Selain untuk digunakan pada saat ritual adat kain tenun asli ini juga bisa dijual dengan kisaran harga 1,5 juta – 3 juta rupiah per helai kainnya. Cukup mahal namun harga ini setara dengan proses ,kualitas dan nilai filosofisnya.

 

 

 

 

 

Trend Fasion Etnic sangat diminati oleh generasi milenial

Foto dan Liputan : S.L.Eduard

Talent : Vanesha, Sanggar SDK Nualain 1, Lia , Erni

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan